بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Kita lanjutkan pembahasan berikutnya yaitu mengenai tanda fi'il yang ke empat
yaitu :
(تاءُ التأنيثِ الساكنةُ ) yaitu :TAA SUKUN yang menunjukkan
muannats (PR)... Yang mana TAA tersebut adalah huruf mabniy 'ala sukun
(senantiasa terus menerus berharokat sukun) dan tidak memiliki kedudukan dalam
i' roob,
Kemudian TAA tersebut hanya masuk pada fiil MAADHI saja, yang
fungsinya untuk menunjukkan bahwa fiil tersebut adalah muannats..
Contohnya :
جاءتْ هندٌ (hindun telah datang)... Maka lafadz جاءتْ pada contoh
tersebut adalah fi'il maadhi....
Dari mana kita tau...? Jawabannya :dari TAA
sukun yang masuk padanya....
Faaidah :
kenapa ALMUALLIF (ibnu
aajurruum) mengikat TAA yang menunjukkan muannats tersebut dengan SUKUN...
yaitu ucapan nya
تاء التأنيث الساكنة)....؟،
kenapa
tidak mencukupkan dengan ucapan تاءُ التأْنيث (TAA yang menunjukkan muannats) begitu
saja.. ?
Jawabannya :
karena untuk mengeluarkan (تَاءُ التَأْنِيْثِ المُتَحَرِّكَةُ) TAA MUANNATS YANG BERHAROKAT...
Kenapa demikian..? Karena TAA
muannats yang berharokat tersebut bukan tanda fiil, tapi tanda untuk isim yang
muannats (pr)..
Seperti :
هذه شَجَرَةٌ (pohon)..
Maka lafadz شجرة pada contoh tersebut adalah isim muannats,
karena di akhiri dengan TAA MUANNATS YANG BERHAROKAT (TAA MARBUUTHOH)....
Sehingga dengan penjelasan ini kita ketahui bahwa TAA MUANNATS yang di jadikan
tanda untuk fiil adalah TAA MUANNATS yang SUKUN (تْ) Bukan TAA
MUANNATS yang mutaharrikah (berharokat)(.... ةًٌٍ...)....
Wallohu a'lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar