بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Adapun pembahasan berikutnya sebelum kita memasuki perkataan ibnu aajurruum
adalah :
faidah..
Kenapa almuallif (pengarang kitab juru miyyah) di dalam
matannya ketika menyebutkan pembagian kalam beliau mendahulukan penyebutan isim
dari pada dua saudara nya yaitu fi'il dan huruf..?...
Kenapa beliau tidak
membolak balikkan kemudian mengatakan....
وأقسامه
ثلاثة :فعل واسم وحرف جاء لمعنى
atau
حرف جاء لمعنى واسم و فعل....?
Jawabannya :
لشرفه وعلو منزلته
(karena mulia serta tingginya kedudukan
isim tersebut )....
Dari sisi bahwasanya ISIM bisa berdiri sendiri (tidak butuh
pada fi'il dan huruf) ketika di susun pada sebuah kalimat , seperti :
محمدٌ قائمٌ
(muhammad berdiri)..
Maka pada kalimat tersebut tersusun dari dua isim yaitu
محمدٌ
dan
قائمٌ...
Contoh lain :
محمدٌ رجلٌ كريمٌ
(muhammad adalah laki-laki yg dermawan)...,
Berbeda dengan fiil dan huruf,karena keduanya pasti perlu isim di dalam menyusun
sebuah kalimat (alias tidak bisa berdiri sendiri).... Seperti :
ذَهَبَ ذَهَبَ
maka kalimat ini gak bisa di pahami secara sempurna, begitu juga
مِنْ مِنْ.....
Gak bisa juga di pahami secara sempurna...
Tapi kalau fiil dan huruf tersebut di susun dengan isim.. maka ma'nanya akan bisa
di pahami secara sempurna,
seperti :
ذَهَبَ زيدٌ إلى المسجد
(zaid pergi ke masjid)....
Sekarang ma'na
fiil dan huruf bisa di pahami sempurna kenapa..?
Karena keduanya tersusun bersama isim.. Oleh karena inilah pengarang jurumiyyah
dan juga para ahli nahwu mendahulukan penyebutan isim dari pada fiil dan
huruf...
YAITU :KARENA ISIM BISA BERDIRI SENDIRI DALAM MEMBIKIN SEBUAH KALIMAT BERBEDA
HALNYA DG FIIL DAN HURUF KARENA KEDUANYA PASTI BUTUH ISIM....
Wallohu a'lam...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar